Jumat, 11 Maret 2011

Tulisan Karangan : TOEFL

TUGAS TULISAN BAHASA INGGRIS BISNIS 2

KARANGAN TOEFL (TEST OF ENGLISH AS A FOREIGN LANGUAGE)


Disusun oleh :

NAMA : ALMONDIA IPUT

NPM : 10207089

KELAS : 4EA10

UNIVERSITAS GUNADARMA


TOEFL (Test of English as a Foreign Language)

The term of TOEFL is the abreviation of Test of English as a Foreign Language. This test is to evaluate the ability of english to the non active-speakers to continue to high school or university or scholarship. Generaly, there are three kinds of TOEFL test, are : International TOEFL, Institutional Testing Program (ITP) and TOEFL Prediction. To have the International TOEFL usually using computer and it called Computer Based TOEFL (CBT), while the Institutional Testing Program (ITP) is the writting, test and it called Paper Based TOEFL (PBT). But the prediction TOEFL is not the one of the TOEFL that be published by the institution. To those who want to have the graduation of S1, S2, S3 must be able to pass the test of TOEFL. The qualified offices need the TOEFL test to have the best workers or the other word we may say it is the obligation.

The metode of TOEFL is the test of the ability, are : Testing Point Explanatory Model through this method there also material test and through listening, comprehension, structure and written expression and reading comprehension. TOEFL has three points, they are listening comprehension, structure and listening expression and reading comprehension. Listening comprehension is the ability test of the one to understand about the conversation and spelling of English. But written expression is the part of it that to test of the one’s ability. About the introduction and understanding of the structure and written of English. The reading comprehension test is the point to see how far in understanding of the reading test of the topic. In TOEFL, no single passing score generally because the score is decided by the institution it self. But some of the institutions determine of score 550 or more as the qualification, but some of them also open the class of TOEFL approach 500.

There are also the changing of TOEFL, in format or difficulity and it can be found in listening comprehension. It complete to have the TOEFL test the student should be follow the informations. The term of test of written English and means essay. Testing point of the TOEFL is the important point. Testing point is the main point of the test TOEFL and is the important part in doing the exercises of TOEFL. The practices test in testing point can be done by any section. Eventhough the question of the TOEFL test still new in every test but the testing points are same. The understanding of testing point is really help you to organize your study time and help you to solve about the differences the kind of test. For example when we face to the test at least you have to know what kind of the testing point, vocabularies, the verbs or the others. When you do the exercises test you may test your own ability to understand the strategies you use in answering the test.

The backwards is the one of the strategy in doing the test in the section of listening comprehension. The procedure of listening comprehension section in TOEFL, firstly you will listen the question from cassets or computer and then notice for choice of four answers and then notice of four choice of the answer and how to answer it. It means you will listen earlier then you find the choice the answer that you think correct. But in the strategy of the backwards way quite the contrary, when before listening the cassets the participants reading the answers the choices and then determine the answer that they thing correct. Belows are the steps in strategy of the backwards way : switch on the tape recorder or computer then listen the instruction. When you listen the instruction, be concentrate, divert attention the other matter, like open the text book or seeing the exercises.

When you do the test keep pay attention to the choices the answer provided. And use your second time to notice the keyword, like : name, situation or the place where the conversation is being done. Keep pay attention to the repeat of the keywords because it will help you to understand when you are listening the cassets. When the casset is being played you may not pay attention to the reading and keep concentrate. How to face the TOEFL preparation make sure your time test positively in doing the test, prayer, bringing the registration card, ID card, pencil and other tools. Come earlier before the test start, make sure your time is enough then in your trip to the test to the place, finding the room or other preparations, relax, doing deep breath and follow the next instruction given. By doing and following the suggestions above you may have the succesfullness in doing the TOEFL.

Kamis, 09 Desember 2010

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Tanggung jawab sosial dan keterlibatan perusahaan dalam berbagai kegiatan sosial merupakan suatu nilai yang sangat positif bagi perkembangan dan kelangsungan perusahaan dalam jangka panjang. Keterlibatan sosial perusahaan di masyarakat akan menciptakan suatu citra yang sangat positif. Biaya sosial yang dikeluarkan dianggap sebagai investasi jangka panjang. Kelestarian lingkungan, perbaikan prasarana umum, penyuluhan, pelatihan, dan perbaikan kesehatan lingkungan walaupun memerlukan biaya yang signifikan, namun secara jangka panjang sangat menguntungkan perusahaan, karena kegiatan tersebut menciptakan iklim sosial politik yang kondusif bagi kelangsungan bisnis perusahaan tersebut.

Dapat kita lihat, pada saat libur merayakan hari Idul Fitri, beberapa perusahaan memberikan fasilitas mudik gratis bagi masyarakat yang terkait langsung dengan perusahaan, contohnya seperti bank dengan nasabahnya, perusahaan yang memproduksi obat tradisional dengan bakul jamunya, dan lain-lain.

Bagi situasi dunia yang semakin global sekarang ini, masing-masing pihak saling tergantung, serta tidak ada lagi perusahaan yang tertutup atau tidak mau melakukan perbaikan-perbaikan untuk kemajuan. Perusahaan yang masih tidak mengindahkan hal-hal semacam ini, cepat atau lambat akan semakin ditinggalkan oleh pelanggannya.

Sumber :

http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:1KibThGeL8oJ:edratna.wordpress.com/2006/12/06/budaya-korporatif-etika-bisnis-dan-corporate-sosial-responsibilities/+artikel+bisnis+sebuah+etika&cd=3&hl=id&ct=clnk&gl=id

Etika Utilitarianisme Dalam Bisnis

Banyak teori dan pelajaran tentang etika (contohnya adalah filsafat terapan) yang mengevaluasi masalah-masalah moral. Diantaranya adalah teori-teori Aristotelianisme, consequentialisme, instrumentalisme, hedonisme, egoisme, altruisme, utilitarianisme, deontologisme, dan etika Kantian.

Teleological ini dianut oleh pengikut utilitarianisme, di antara para pemukanya terdapat Jeremy Bentham (1748-1832) dan John Stuart Mill (1806-1973). Termasuk pula di dalam analisis teleological ini adalah pandangan dari filsuf kontemporer John Rawls yang dinamakan “veil of ignorance”, didasarkan kepada prinsip distributive justice.

Utilitarianisme adalah bentuk etika teleological yang lebih familiar dikenal oleh pelaku-pelaku bisnis yang memusatkan pandangannya terhadap masalah “the bottom line”. Keputusan-keputusan bisnis diambil dengan pandangan yang dipusatkan kepada akibat yang mungkin timbul atau konsekuensi apabila terjadi pertentangan di antara keputusan-keputusan itu, pertanyaan yang selalu diajukan adalah tentang “apa yang terbaik bagi perusahaan?”.

Jika pelaku bisnis, yang merupakan suatu badan hukum yaitu perusahaan, mempertimbangkan hanya bagaimana agar suatu tindakan akan memberikan keuntungan yang besar, maka hal ini adalah merupakan pandangan utilitarianisme. Utilitarianisme dalam hal ini dikenal sebagai salah satu dari pandangan dengan analisis laba-rugi (cost-benefit).

Menurut pandangan utilitarianisme, kerangka yang harus digunakan dalam rangka mempertimbangkan suatu tindakan yang akan diambil, harus didasarkan pada perhitungan atas akibat atau konsekuensi dari tindakan itu. Tujuannya adalah untuk memilih alternatif yang menghasilkan “yang paling baik bagi kelompok terbesar.” Akan tetapi, pandangan ini dihadapkan kepada dua pertanyaan yang sangat penting, yaitu untuk mencapai tujuan, seseorang harus mampu untuk mengidentifikasi apa yang paling “baik” dan siapa yang merupakan kelompok “terbesar” dalam setiap transaksi termasuk pula akibat setiap pemutusan kontrak bisnis terhadap karyawannya yang kemungkinan akan kehilangan pekerjaan atau setidaknya kekurangan penghasilan karena berkurangnya produksi dan seterusnya mempertimbangkan akibat tersebut terhadap keluarga karyawan.

Kaum Utilitarian mengemukakan alasan bahwa hal yang baik yang dapat diikuti mungkin adalah apa yang dapat merupakan kesempatan agar bisnis berjalan lancar dan para pekerja yang membutuhkan dapat dipekerjakan. Hal yang buruk adalah bila perusahaan tidak mendapat pembayaran, para pekerjanya akan menderita, dan, bila pengamatnya adalah seorang Utilitarian, akibat buruk akan datang dari pihak lain yang menganggap bahwa seseorang dapat membuat janji palsu dengan tidak melakukan pembayaran.

Prinsip-prinsip utilitarianisme juga dapat digunakan dalam pengambilan keputusan sebagai analisis pemegang saham (stakeholder analysis) dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1. Menentukan bagaimana suatu biaya dan manfaat akan dapat diukur dalam memilih satu langkah tindakan atas tindakan yang lain.

2. Menentukan informasi apa yang dibutuhkan untuk menentukan biaya dan manfaat sebagai alat perbandingan.

3. Mengindentifikasi prosedur-prosedur dan kebijakan-kebijakan yang akan digunakan untuk menjelaskan dan membenarkan analisis atas biaya dan manfaat.

4. Menetapkan asumsi ketika mendefinisikan dan membenarkan analisis dan kesimpulan yang diambil.

5. Menentukan kewajiban moral terhadap tiap pemegang saham setelah biaya dan manfaat diestimasi untuk pengambilan strategi yang spesifik.

Sumber :

http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:-XRq-a5kEEUJ:one.indoskripsi.com/node/6540+artikel+etika+utilitarianisme+dalam+bisnis&cd=19&hl=id&ct=clnk&gl=id ,

http://faii99.blogspot.com/2009/11/etika-bisnis-dalam-praktek.html

Bisnis dan Etika

Aspek pokok dari bisnis yaitu dapat berasal dari sudut pandang etika yaitu dalam bisnis, berorientasi pada profit adalah sangat wajar, akan tetapi jangan keuntungan yang diperoleh tersebut justru merugikan pihak lain. Tidak semua yang dapat kita lakukan boleh dilakukan juga. Kita harus menghormati kepentingan dan hak orang lain. Pantas diperhatikan, bahwa dengan itu kita sendiri tidak dirugikan, karena menghormati kepentingan dan hak orang lain itu juga perlu dilakukan demi kepentingan bisnis kita sendiri.

Bila bisnis dilihat dari sudut pandang moral. Yang menjadi tolok ukur untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan bisnis. Dari sudut pandang moral, setidaknya ada 3 tolok ukur yaitu nurani, kaidah emas, dan penilaian umum yang seperti dijelaskan seperti berikut :
1. Hati nurani

Suatu perbuatan adalah baik, bila dilakukan susuai dengan hati nuraninya, dan perbuatan lain buruk bila dilakukan berlawanan dengan hati nuraninya.

2. Kaidah Emas

Cara lebih obyektif untuk menilai baik buruknya perilaku moral adalah mengukurnya dengan kaidah emas positif, dan rumusan kaidah emas secara negatif.

3. Penilaian Umum

Cara ketiga dan barangkali paling ampuh untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku adalah menyerahkan kepada masyarakat umum untuk menilai.

Kata "etika" dan "etis" tidak selalu dipakai dalam arti yang sama, dan karena itu pula "etika bisnis" dapat berbeda artinya. Etika sebagai praksis berarti nilai-nilai, dan norma-norma moral sejauh dipraktekkan atau justru tidak dipraktekkan, walaupun seharusnya dipraktekkan. Sedangkan etis merupakan sifat dari tindakan yang sesuai dengan etika. Peranan etika dalam bisnis menurut Richard De George, bila perusahaan ingin sukses/berhasil memerlukan 3 hal pokok yaitu :

1. Produk yang baik
2. Managemen yang baik

3. Memiliki Etika

Etika bisnis adalah acuan bagi perusahaan dalam melaksanakan kegiatan usaha termasuk dalam berinteraksi dengan pemangku kepentingan (stakeholders). Penerapan nilai-nilai perusahaan dan etika bisnis secara berkesinambungan mendukung terciptanya budaya
perusahaan. Setiap perusahaan harus memiliki rumusan etika bisnis yang disepakati bersama dan dijabarkan lebih lanjut dalam pedoman perilaku.


Sumber : http://www.scribd.com/doc/18575776/ETIKA-BISNIS

Bisnis Sebuah Etika

Berbisnis Memerlukan Etika

Salah satu keinginan dan hasrat manusia adalah menjadi lebih baik secara ekonomis. Pada arah ini, tujuan bisnis adalah melipatgandakan keuntungan atau maksimalisasi profit. Sehingga ketika berwacana tentang etika bisnis, kita seolah-olah berhadapan dengan dua hal yang berbeda bahkan bertentangan.

Kedua hal tersebut adalah etika sebagai refleksi atas norma-norma moral manusia, khususnya pebisnis kontemporer, dan hakikat bisnis yang selalu terarah kepada maksimalisasi keuntungan sebagai tujuan tertinggi sekaligus terakhir. Para pebisnis yang menetapkan keuntungan diatas segala-galanya yang tentu akan menganggap norma-norma moral sebagai kendala, setidaknya bersifat relatif terhadap upaya pencapaian tujuan bisnis.

Kelompok pebisnis seperti ini merupakan orang-orang yang membangun bisnisnya dengan perspektif jangka pendek. Mereka adalah sosok-sosok pebisnis yang piawai dalam hal lobi dan kolusi yang secara strategis melakukan tindakan-tindakan laksana tukang pukul atau tukang tembak sesaat. Mereka bukan pebisnis sungguhan, karena hanya sekadar mencari dan meraup keuntungan.

Etika bisnis mengandalkan bahwa ketika menghadapi benturan-benturan atau persoalan-persoalan moral dalam praksis bisnis, para pebisnis akan merefleksikan norma-norma moral baik secara kritis maupun secara sistematis sehingga mereka dapat mengambil langkah-langkah yang tepat demi pengembangan diri semua yang terkait dalam keseluruhan proses bisnis melalui pelaksanaan tugas dan kewajiban secara bertanggung jawab.

Dengan demikian, etika bisnis atau etika dalam berbisnis memampukan para pebisnis untuk memilih berbagai ajaran moral dan menerapkannya secara bertanggung jawab dalam wilayah kegiatan ekonomis atau bisnis. Etika bisnis juga memberikan orientasi kepada para pebisnis, khususnya para pebisnis kontemporer agar mampu bersikap secara tepat dan bertanggung jawab menghadapi transformasi ekonomi, sosial, budaya, dan transformasi intelektualyang tengah gencar melanda manusia zaman ini.

Penerapan norma-norma moral (kejujuran, kepercayaan, tanggung jawab, keberanian moral, fairness, realistik-kritis, rendah hati, hormat kepada diri sendiri dan orang lain, dan kepedulian) dalam berbisnis yang direfleksikan secara kritis dan sistematis sama sekali bukan malapetaka bagi sebuah bisnis. Etika tidak merugikan seseorang dalam mengoperasikan bisnisnya. Belum pernah terjadi kalau sebuah bisnis yang dibangun dan dioperasikan diatas norma-norma moral akan gagal atau gulung tikar.

Justru etika dalam berbisnis melanggengkan bisnis dan memampukan pebisnis untuk mengambil pelanggan sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya demi maksimalisasi keuntungan. Etika dapat dipandang sebagai unsur efisiensi dalam keseluruhan proses bisnis. Dalam kaitannya dengan penerapan etika bisnis di Indonesia, bukan hanya pebisnis saja yang harus menerapkan etika bisnis, tetapi juga pemerintah dan konsumen atau pelanggan serta masyarakat yang secara langsung dan tidak langsung terjaring dalam proses sebuah bisnis.

Perilaku etis pebisnis merujuk kepada wawasan keadilan sosial, wawasan nasional dan wawasan lingkungan hidup. Pada tatanan etis, pemerintah dituntut untuk menciptakan kondisi yang memadai bagi pertumbuhan dan perkembangan ekonomi nasional. Tuntutan-tuntutan etis itu mengkristal dalam posisi strategis pemerintah sebagai pemberi arah yang terwujud sebagai bimbingan, ayoman, serta sebagai pemberi petunjuk yang jelas dan pasti kepada para pebisnis sebagai pelaku sekaligus ujung tembok pertumbuhan perekonomian nasional.

Sumber :

http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:0RmxntOOsSQJ:bataviase.co.id/node/290020+artikel+tentang+bisnis+sebuah+etika&cd=30&hl=id&ct=clnk&gl=id